Baby Hello Kitty

Pengikut

Senin, 03 Desember 2018

PENTINGNYA PERENCANAAN PENDIDIKAN 


         
Perencanaan Sekolah penting dilakukan untuk memberi arah dan bimbingan para pelaku pendidikan dalam rangka menuju perubahan atau tujuan yang lebih baik (peningkatan, pengembangan) dengan resiko yang kecil dan untuk mengurangi ketidakpastian masa depan.
Perencanaan dipandang penting dan diperlukan bagi suatu organisasi, lembaga dan kumpulan pendidikan lainnya antara lain di karenakan :
  • 1.      Dengan adanya perencanaan diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegitan-kegitan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan.
  • 2.      Dengan perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan (forecasting) terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan dilakaukan mengenai potensi-potensi dan prospek-prospek perkembangan tetapi juga mengenai hambatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin di hadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidakpastian dapat dibatasi sedini mungkin.
  • 3.      Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternative tentang cara yang terbaik (the best alternative) atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik (the best combination)
  • 4.      Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas. Memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran, maupun kegiatan usahanya.
  • 5.      Dengan adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengasan atau evaluasi kinerja usaha atau organisasi, termasuk pendidikan.

Dengan demikian perencanan tidak dapat dilakukan tanpa adanya pemikiran yang matang, komprehensif dan rasional. Untuk itu perhatian terhadap langkah-langkah perencanaan  dan segala hal yang berkaitan dengan perencanaan penting bagi manajemen dan bagi para manajer pendidikan
Paling tidak dalam penyusunan perencanaan hendaknya memenuhi hal tersebut, jika hal tersebut tidak dilalui maka ada kemungkinan rencana yang telah dibuat akan sulit untuk direalisasikan. Dengan demikian untuk menghindarkan dari kegagalan dalam menyusun perencanaan, langkah terbaik adalah menggunakan langkah-langkah yang telah teruji kebenarannya dalam menyusun perencanaan

Kamis, 15 November 2018

Psikologi Kepribadian


psikologi kepribadian adalah ilmu psikologi yang mempelajari tentang kepribadian seseorang . Tujuan belajar ilmu psikologi tentunya agar kita mengetahui tipe-tipe kepribadian manusia. Sehingga kita mampu memahami orang lain, Karena apapun yang tindakan seseorang tentunya dipengaruhi oleh kepribadiannya. Dalam memutuskan untuk bersikap atau menentukan pilihan-pilihannya. 

Kamis, 08 November 2018


MENANGANI BULLYING MELALUI BIMBINGAN
Oleh: Endo Kosasih,

            Bullying merupakan suatu tindakan kenakalan yang tidak bisa dianggap ringan karena memiliki dampak psikis yang tidak kecil bagi semua orang yang terlibat di dalamnya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tindak bullying dapat digolongkan ke dalam dua bentuk, yaitu: langsung dan tidak langsung. Tindak bullying langsung mencakup 1) tindakan fisik memukul, menendang, menampar, merebut barang, dan lain-lain; 2) tindakan verbal mengejek/mengolok-olok, menyebut sesuatu berbau SARA, meminta uang/barang atau melakukan sesuatu dengan ancaman. Secara tidak langsung, tindakan bullying meliputi mengisolasi, memojokan, memanipulasi pertemanan, menyebarkan rumor, menulis “surat kaleng”, dan sebagainya.
Tindak bullying yang terjadi di sekolah baik SD, SMP, maupun SMA/SMK tampaknya tidak memadai jika hanya dipandang sebagai kejadian yang melibatkan dua aktor saja, pem-bully /penindas (bully) dan korban/yang tertindas (victim). Sebagai peristiwa kelompok tindakan bullying  melibatkan banyak aktor dengan berbagai peran. Pada peristiwa tersebut aktor-aktor tersebut baik langsung maupun tidak membuat tindak bullying itu terjadi. Aktor-aktor yang dimaksud meliputi: pem-bully, rekan/asisten pem-bully,korban, pembela, dan penonton. Pem-bully adalah aktor utama yang menyebabkan perilaku bullying terjadi karena dialah yang mempunyai inisiatif dan melakukan tindakan bullying. Ketika pem-bully melaksanakan aksinya biasanya ia ditemani oleh rekannya, yang berperan sebagai asisten/fasilitator, inspirator, dan penyemangat (motivator) bagi si pem-bully dalam menjalankan aksinya serta sebagai martir menghadapi pembela korban. Aktor ketiga adalah yang menjadi objek penderita tindak bullying, korban (victim). Ia adalah pihak yang dianggap lemah dan tidak mampu melaksanakan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan yang diarahkan padanya. Sehingga ketika terjadi tindak bullying, orang dekat korban yang memiliki kekuatan biasanya muncul sebagai pembela (defender). Tidak jarang perkelahian terjadi antara pem-bully/assistennya dan pembela pada saat peristiwa bullying terjadi. Adapun aktor terakhir dalam peristiwa bullying adalah penonton (bystander). Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan tindakan bullying terjadi dan mereka tidak melakukan tindakan membantu pem-bully ataupun membela korbannya. Dengan kata lain mereka hanya melihat dan abstain dalam penyikapan terhadap tindak bullyingtersebut. Diamnya penonton ini ketika terjadi tindakan penindasan dapat membuat aman pem-bully dalam menjalankan aksinya dan biasanya dipersepsikan baik oleh pem-bully maupun korban sebagai pihak yang menyetujui tindak bullying.
           
Implikasi Bimbingan
Bimbingan untuk menangani bullying ini dapat berupa upaya preventif yang bersifat pencegahan terjadinya tindak bullying dan upaya kuratif yang dilakukan pasca peristiwa bullying. Bimbingan preventif dapat berupa upaya memunculkan pemahaman dan kesadaran bahwa tindak bullying tidak dapat diterima baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Bimbingan yang bersifat kuratif arahannya tergantung pada peran-peran yang dimainkan oleh semua orang yang ada ketika peristiwa bullying itu berlangsung. Bagi korban dan terkadang pembela yang menjadi korban dampak yang paling besar adalah pada keadaan kejiwaannya (gelisah, stress, atau depresi), sehingga bimbingan untuk korban/pembelanya diarahkan pada bagaimana mengupayakan agar ia mampu menangani gejolak kejiwaannya sehingga mencapai keadaan yang normal dan sehat. Bagi pembela yang melakukan konfrontasi dengan pem-bully secara langsung karena memiliki kekuatan yang seimbang atau lebih besar, bimbingan diarahkan pada pengendalian diri dan pemerolehan pengetahuan dan keterampilan tentang mencegah/mengatasi tindak bullying secara berterima. Bagi pem-bully dan asistennya yang memiliki agresivitas tinggi, bimbingan diarahkan pada pengendalian diri terhadap sikap/perilaku agresif dan penumbuhan keyakinan, sikap, dan perilaku sosial yang sehat/ normal. Adapun bagi penonton yang menyaksikan episode-episode bullying sehingga menganggap kejadian semacam itu lumrah/atau lazim adanya, maka bimbingan diarahkan pada pemunculan pemahaman bahwa tindak bullying itu merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dalam lingkungan sosial yang beradab dan mengajarkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah, mengatasi, atau menghentikan tindakan bullying tersebut.

Testing Link 
Klik link-1 Ini menuju facebook